BEST PRACTICES
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SDN KEDUNGORI 1 DEMPET
Disusun guna
memenuhi tugas
Mata Kuliah Dasar
Pendidikan dan Pembelajaran
Dosen Pengampu
: Dr. Sri Utaminingsih
NIM : 201903088
KELAS : A
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
ABSTRACT
RINGKASAN
Kata kunci: Hasil Belajar IPA, Model Contextual teaching and Learning,Struktur dan Kegunaan Akar.
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
A. Tujuan
A. Model Pembelajaran Contextual
Teaching and Learning
B. Pentingnya Penerapan Pendekatan
CTL Dalam Pembelajaran
C. Strategi Pembelajaran CTL
1. Pembelajaran berbasis masalah
2. Menggunakan konteks yang beragam
3. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa
4. Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri
5. Belajar melalui kolaborasi
6. Menggunakan penelitian autentik
7.
Mengejar standar tinggi
a. Relating
b. Experiencing
c. Applying
d. Cooperative
e.
Transfering
D. Komponen CTL
1. Konstruktivisme (Constructivism)
2.
Menemukan (Inquiri)
3. Bertanya (Questioning)
4.
Masyarakat Belajar (Learning Community)
5.
Pemodelan (Modelling)
6. Refleksi ( Reflection )
7.
Penilaian Yang Sebenarnya (
Authentic Assessment )
Hasil Penelitian
B. Saran
Oleh:
Nama : PURNOMO
NIM : 201903088
KELAS : A
PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN DASARUNIVERSITAS MURIA KUDUSTAHUN 2020
BEST PRACTICES
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SDN KEDUNGORI 1 DEMPET
PURNOMO
Program studi Magister Pendidikan Dasar,
Universitas Muria Kudus Email:ilhampurnomo89@gmail.com
ABSTRACT
The purpose of this study was to
determine the importance of applying the Contextual Teaching and Learning (CTL)
approach, strategies, components and their application in science learning in
the fourth grade of Kedungori 1 Elementary School in Dempet Subdistrict.
The conclusion of this study is that by
using the CTL model on material structure and root use can improve science
learning outcomes of fourth grade students of Kedungori 1 Elementary School in
Dempet Subdistrict. By applying the CTL approach and seven components, students
are fully involved in being able to find material and make connections between
knowledge it has with application in
everyday life. Researchers suggest that teachers should apply the CTL
learning model in science subjects because learning will be meaningful so that
it will improve student achievement.
Keywords: Science Learning Outcomes, Contextual Teaching and Learning Models,
Root Structure and Use.
RINGKASAN
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pentingnya penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),
strategi, komponen serta penerapannya dalam pembeljaran IPA di kelas IV SDN
Kedungori 1 Kecamatan Dempet.
Simpulan dari penelitian ini yaitu
dengan menggunakan model CTL pada materi struktur dan kegunaan akar dapat
meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kedungori 1 Kecamatan Dempet.
Dengan menerapkan pendekatan CTL dan tujuh komponennya, siswa terlibat secara
penuh untuk dapat menemukan materi serta membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.Peneliti
menyarankan agar guru hendaknya menerapkan model pembelajaran
CTL dalam mata pelajaran IPA karena pembelajaran akan bermakna sehingga akan
meningkatkan prestasi siswa.
Kata kunci: Hasil Belajar IPA, Model Contextual teaching and Learning,Struktur dan Kegunaan Akar.
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana
yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya pribadi
peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan
menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan Negara Indonesia
sepanjang zaman.( Lutfiana Khairoh , Ani Rusilowati, Sri Nurhayati.2014).
Di dalam dunia pendidikan, banyak sekali
cabang ilmu yang dipelajari. Salah satunya adalah Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA).Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains merupakan produk, proses dan
penerapannya termasuk sikap dan nilai yang terdapat di dalamnya.Belajar IPA
atau membelajarkan sains kepada siswa adalah memberikan kesempatan dan bekal
untuk memproses sains dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sains juga menekankan pemberian pengalaman
secara langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa
mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.pendidikan sains
diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam atau bersifat permanen.
Di dalam pembelajaran, guru dituntut untuk
mengembangkan keterampilan proses sains. Ada lima aspek yang perlu diperhatikan
guru dalam berperan mengembangkan ketrampilan proses. Pertama, memberikan kesempatan bereksplorasi materi dan fenomena. Kedua, berdiskusi dalam kelompok kecil
dan diskusi kelas. Ketiga,
mendengarkan pembicaraan siswa dan mempelajari produk mereka untuk menemukan
proses yang diperlukan untuk membentuk gagasan mereka. Keempat, mendorong siswa mereview secara kritis tentang bagaimana
kegiatan mereka telah lakukan, dan kelima,
memberikan teknik atau strategi untuk meningkatkan ketrampilan. Dengan demikian
diharapkan pembelajaran akan aktif, inovatif, kreatif, afektif dan menyenangkan
(PAIKEM), agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai
kompetensi yang diharapkan.
Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang menggunakan pola
pembelajaran tradisional dengan metode pokok ceramah. Sehingga masih banyak
siswa belum mampu mencapai kompetensi yang diharapkan dengan optimal, karena
siswa tidak mempunyai pemahaman konsep sains dengan baik.Keadaan itulah yang
menuntut guru untuk dapat mengelola pembelajaran seefektif mungkin antara lain dengan memilih model pembelajaran yang sesuai
dengan materi atau topik.
Dari paparan di atas, maka dalam penelitian ini guru sebagai penulis
memilih model pembelajaran kontekstual karena model pembelajaran CTL sangat
cocok untuk pembelajaran IPA.
A. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pentingnya penerapan pendekatan CTL dalam pembelajaran , strategi
pembelajaran CTL, komponan- komponen dalam pendekatan CTL serta penerapan
pendekatan CTL pada pembelajaran IPA.
BAB II PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Contextual
Teaching and Learning
Pembelajaran kontekstual merupakan
konsep belajar dengan karakteristik guru menghadirkan situasi dunia nyata ke
dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat.
Dengan konsep ini hasil pembelajaran
diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah
dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan hanya kegiatan
transfer ilmu dari guru ke siswa semata.
Pandangan progresivisme yang dikemukakan
oleh John Dewey (dalam Murtono, 2017:112),menyebutkan hal-hal yang melandasi
pentingnya pembelajaran kontekstual bagi siswa adalah siswa belajar dengan baik
apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka
tentang apa yang diajarkan oleh guru.Selanjutnya,Andrew(dalam Murtono,2017:112)
menjelaskan dalam pembelajaran, anak harus bebas agar bisa berkembang wajar,
melalui pengalaman langsung.
Daryanto dan Raharjo, (dalam Sri
Utaminingsih,2015) pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
learning) adalah konsep
belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat
hubuangan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan
mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran
efektif, yakni: kontruktivisme (Contructivism), bertanya (Questioning), menemukan
(Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan
penilaian sebenarnya (Authentic Assesment).
Sedangkan Sanjaya (dalam Sri
Utaminingsih,2015) Contextual Teaching
and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
B. Pentingnya Penerapan Pendekatan
CTL Dalam Pembelajaran
Penerapan pembelajaran CTL dianggap penting
karena beberapa hal yaitu:
1)
Anak belajar memahami sendiri,
mengkonstruksi pengetahuan,kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Dengan dorongan
dari guru,
mereka di harapkan mampu
mengkonstruksikan pelajaran dalam benak mereka sendiri, jadi siswa tidak hanya
sekedar menghafalkan fakta-fakta, akan tetapi mereka di tuntut untuk mengalami
dan akhirnya menjadi tertarik untuk menerapkannya.
2)
Melalui pendekatan kontekstual di
harapkan siswa di bawa ke dalam nuansa pembelajaran yang di dalamnya dapat
memberi pengalaman yang berarti melalui proses pembelajaran yang berbasis
masalah, penemuan(inquiri), independent learning, learning community, proses
refleksi, pemodelan sehingga dari proses tersebut di harapkan mereka dapat
memahami, menghayati dan, mengamalkan ajaran
agamanyaa.
3)
Pembelajaran yang kompeten memenuhi
tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan, psIkomotor, ketiga aspek tersebut
harus di kembangkan secara terpadu dalam dalam setiap bidang kegiatan
pembelajaran. Guru dapat memilih bagian mana yang cocok untuk aspek kognitif,
afektif, maupun psikomotor melalui penerapan model ini, di harapkan dapat
membantu para guru dalam mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang
benar-benar mempunyai kualitas belajar yang kuat yang di hiasi dengan akhlak
yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
C. Strategi Pembelajaran CTL
Beberapa
strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual
antara lain:
1. Pembelajaran berbasis masalah
Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa
ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan.
2. Menggunakan konteks yang beragam
Dalam
CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa
menjadi berkualitas.
3. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa
Guru mengayomi individu dan meyakini
bahwa perbedaan individual dan sosia lhendaknya dibermaknakan menjadi mesin
penggerak untuk belajar saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan
ketrampilan interpersonal.
4. Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan formal merupakan hal yang
penting bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri di
kemudian hari.
5. Belajar melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa
yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan
sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
6. Menggunakan penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan bahwa
belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan
pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
7.
Mengejar standar tinggi
Setiap sekolah hendaknya menentukan
kompetensi kelulusan dari waktu ke waktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah
hendaknya melakukan Benchmarking dengan melakukan studi banding ke berbagai
sekolah di dalam dan luar negeri. Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) Penerapan
strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:
a. Relating
Belajar dikatakan dengan konteks dengan
pengalaman nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk
membantu peserta didik agar yang
dipelajarinya bermakna.
b. Experiencing
Belajar adalah kegiatan “mengalami
“peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya
melakukan eksplorasi terhadap
hal
yang dikaji,berusaha menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang
dipelajarinya.
c. Applying
Belajar
menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan dalam
konteks dan pemanfaatanya.
d. Cooperative
Belajar
merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok,
komunikasi interpersonal atau hubunngan intersubjektif.
e.
Transfering
Belajar
menenkankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi
atau konteks baru.
D. Komponen CTL
Sebuah kelas dikatakan menggunakan
pendekatan CTL jika menerapkan tujuh komponen pendekatan CTL di dalam
pembelajarannya. Ketujuh komponen utama itu adalah:
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Filosofi pendekatan CTL, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan
bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau
diingat. Manusia harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui
keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi pusat kegiatan
bukan guru. Pada umumnya kita sudah menerapkan
filosofi ini dalam pembelajaran
sehari-hari, yaitu ketika kita merancang pembelajaran dalam bentuk siswa
belajar, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan,
mendemonstrasikan,dan menciptakan ide.
2.
Menemukan (Inquiri)
Menemukan (Inquiri) adalah bagian inti
dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan ketrampilan yang
diperoleh siswa diharapkan
bukan
hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Langkah-langkahnya sebagai berikut;
a.Merumuskan masalah (dalam
mata pelajaran apapun)
b.
Mengamati dan melakukan observasi,
c.Menganalisis
dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya
d.
Mengkomunikasikan atau menyajikan
hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.
3. Bertanya (Questioning)
Dalam pembelajaran yang berbasis CTL,
Questioning merupakan strategi yang utama. Karena bagi siswa kegiatan bertanya
merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri
yaitu menggali informasi menkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan
mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam bertanya dapat
diterapkan antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru
dengan siswa dan antara siswa dengan orang lain yang didatangkan di dalam kelas.
4.
Masyarakat Belajar (Learning Community)
Di dalam konsep learning community
menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang
lain. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam
kelompok- kelompok yang anggotanya heterogen dengan bentuk yang sangat
bervareasi, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas
atasnya. Dalam masyarakat belajar dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam
komunikasi pembelajaran saling belajar. Tidak ada pihak yang dominant merasa
segan untuk bertanya, atau menganggap paling tahu, semua pihak mau
mendengarkan.
5.
Pemodelan (Modelling)
Sebuah pembelajaran atau pengetahuan
tertentu, ada model yang mudah ditiru. Model itu bisa berupa cara mengerjakan
sesuatu. Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum
siswa melaksanakan tugas. Tapi dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya
model, karena
model dapat juga di datangkan dari luar.
Misalnya apabila ada siswa yang pernah memenangkan kontes berbahasa inggris,
siswa itu apat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya, atau guru
mendatangkan ’model’ tukang kayu di kelas, lalu memintanya untuk bekerja dengan
peralatanya, sementara siswa menirukan.
6. Refleksi ( Reflection )
Refleksi merupakan cara berfikir tentang
apa yang baru di pelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah
kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajari
sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi
dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian,
aktifitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Siswa memperluas
pengetahuan yang dimiliki melalui
konteks pembelajaran, yang kemudian di perlukan sedikit demi sedikit, sementara
guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Pada akhir
pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi.
Realisasinya berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari ini,
catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran
hari ini, hasil karya, atau diskusi.
7.
Penilaian Yang Sebenarnya (
Authentic Assessment )
Adalah proses pengumpulan berbagai data
yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Hal tersebut perlu
diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses
pembelajaran dengan benar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu
diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka assessement tidak dilakukan di
akhir periode, tetapi dilakukan bersama dengan secara integrasi (tidak
terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Karena assessment menekankan proses
pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata
yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar
dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagi cara. Hal-hal yang
bisa digunakan sebagai dasar menilai
prestasi siswa adalah
: PR, kuis, karya
siswa, prestasi, laporan jurnal, karya
tulis atau proyek kegiatan dan laporanyannya.
E. Penerapan CTL pada pembelajaran IPA
Penerapan CTL pada pembelajaran IPA
dalam penelitian ini adalah materi di kelas 4, yaitu struktur dan kegunaan
akar. Adapun pelaksanaannya dikolaborasikan dengan multi metode, antara lain:
metode ceramah, penugasan, demonstrasi, eksperimen dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok
2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Sehari sebelumnya siswa diberi
tugas untuk membawa bermacam-macam akar tumbuhan
4. Masing-masing kelompok
menghadap meja dan akar
tumbuhan yang dibawanya beserta lembar kertas folio
5. Penjelasan singkat guru mengenai
pokok materi dan tugas dalam diskusi kelompok
6. Selama 40 menit, siswa diskusi
mengamati dan mengidentifikasi akar tumbuhan yang ada dihadapannya dan mencatat
hasil pengamatannya
7. Siswa menyajikan hasil pengamatan
di kertas karton. Kreatifitas dalam menyajikan ide hasil pengamatan dan diskusi
sangat dihargai
8. Diwakili oleh salah satu anggota setiap kelompok
menyajikan hasilnya.
9. Sharing kelas mengenai hasil diskusi dan pengamatan
tentang akar
10. Memberi tugas rumah
11. Memberi “bonus” untuk penampilan
terbaik (Bolpoin, buku tulis, pensil, dll.
Komponen CTL yang tampak pada langkah-langkah pembelajaran
di atas adalah:
1) Ilmu dan pengalaman diperoleh siswa dari menemukan
sendiri. Itu berarti
konstruktivisme.
2) Proses inquiri muncul pada cara dan kiat mendiskripsikan yang ditempuh
siswa.
3) Questioning muncul ketika siswa mengamati benda, bertanya,
mengajukan usul, dan menebak.
4) Learning
community muncul pada cara kerja kelompok dan saling menebak
dengan kelompok lain.
5) Authentic
assessment yang dinilai dari kegiatan itu adalah kerjasama dalam
kelompok dan hasil presentasi siswa.
6) Kreatifitas siswa muncul dalam
menyajikan ide hasil pengamatan dan
7) Diskusi dapat berupa gambar, bagan, verbal.
Hasil Penelitian
Dari pembelajaran yang menggunakan
pendekatan CTL siswa dapat belajar melalui mengalami bukan menghafai,
mengkontruksi pengetahuan dalam pikiran mereka, terbiasa memecahkan
masalah,menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri dan bergelut dengan
ide-ide. Selain itu siswa juga menjadi aktif, kritis, dan kreatif. Pada proses
pembelajaran, kelas menjadi produktif, menyenangkan dan tidak membosankan.
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
Contextual
Teching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa terlibat secara penuh untuk dapat menemukan
materi serta membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam pendekatan CTL mempunyai tujuh
komponen utama yaitu:1) Konstruktivisme (Constructivism), 2) Menemukan
(Inquiri), 3) Bertanya (Questioning), 4) Masyarakat Belajar (Learning
Community), 5) Pemodelan (Modelling), 6) Refleksi ( Reflection ), 7 Penilaian
Yang Sebenarnya ( Authentic Assessment ).
B. Saran
Sebagai seorang hendaknya selalu
mengembangkan inovasi pembelajaran pada proses belajar mengajar agar siswa
tidak jenuh dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Khakim,Sri Utaminingsih, Fina Fakriyah. 2015.
.Jurnal Ilmiah
kependidikan. Vol 5, No 1
Lutfiana Khairoh , Ani Rusilowati, Sri Nurhayati.2014. Unnes Science Education Journal 3 (2).
Murtono, 2017. Model-model
pembelajaran inovatif. Ponorogo, WadeGroup. Sugiyanto. 2007. Modul
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG): Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi
Guru Rayon 13 Surakarta.
Trianto, S.Pd, M.Pd. 2007. Model – Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik .
Jakarta : Prestasi Pustaka
Komentar
Posting Komentar