BEST PRACTICES


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SDN KEDUNGORI 1 DEMPET






Disusun guna memenuhi tugas

                                            Mata Kuliah Dasar Pendidikan dan Pembelajaran
                              Dosen Pengampu : Dr. Sri Utaminingsih



                                  Oleh:

Nama       : PURNOMO

NIM         : 201903088

KELAS   : A


 PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN DASARUNIVERSITAS MURIA KUDUSTAHUN 2020





BEST PRACTICES


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SDN KEDUNGORI 1 DEMPET



PURNOMO

Program studi Magister Pendidikan Dasar, Universitas Muria Kudus Email:ilhampurnomo89@gmail.com

ABSTRACT


The purpose of this study was to determine the importance of applying the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach, strategies, components and their application in science learning in the fourth grade of Kedungori 1 Elementary School in Dempet Subdistrict.
The conclusion of this study is that by using the CTL model on material structure and root use can improve science learning outcomes of fourth grade students of Kedungori 1 Elementary School in Dempet Subdistrict. By applying the CTL approach and seven components, students are fully involved in being able to find material and make connections between knowledge it has with application in  everyday life. Researchers suggest that teachers should apply the CTL learning model in science subjects because learning will be meaningful so that it will improve student achievement.
Keywords: Science Learning Outcomes, Contextual Teaching and Learning Models, Root Structure and Use.

RINGKASAN


Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pentingnya penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), strategi, komponen serta penerapannya dalam pembeljaran IPA di kelas IV SDN Kedungori 1 Kecamatan Dempet.
Simpulan dari penelitian ini yaitu dengan menggunakan model CTL pada materi struktur dan kegunaan akar dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kedungori 1 Kecamatan Dempet. Dengan menerapkan pendekatan CTL dan tujuh komponennya, siswa terlibat secara penuh untuk dapat menemukan materi serta membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.Peneliti menyarankan agar guru hendaknya menerapkan model pembelajaran CTL dalam mata pelajaran IPA karena pembelajaran akan bermakna sehingga akan meningkatkan prestasi siswa.

Kata kunci: Hasil Belajar IPA, Model Contextual teaching and Learning,Struktur dan Kegunaan Akar.

BAB I PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang

        Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan Negara Indonesia sepanjang zaman.( Lutfiana Khairoh , Ani Rusilowati, Sri Nurhayati.2014).
    Di dalam dunia pendidikan, banyak sekali cabang ilmu yang dipelajari. Salah satunya adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains merupakan produk, proses dan penerapannya termasuk sikap dan nilai yang terdapat di dalamnya.Belajar IPA atau membelajarkan sains kepada siswa adalah memberikan kesempatan dan bekal untuk memproses sains dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sains juga menekankan pemberian pengalaman secara langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam atau bersifat permanen.
   Di dalam pembelajaran, guru dituntut untuk mengembangkan keterampilan proses sains. Ada lima aspek yang perlu diperhatikan guru dalam berperan mengembangkan ketrampilan proses. Pertama, memberikan kesempatan bereksplorasi materi dan fenomena. Kedua, berdiskusi dalam kelompok kecil dan diskusi kelas. Ketiga, mendengarkan pembicaraan siswa dan mempelajari produk mereka untuk menemukan proses yang diperlukan untuk membentuk gagasan mereka. Keempat, mendorong siswa mereview secara kritis tentang bagaimana kegiatan mereka telah lakukan, dan kelima, memberikan teknik atau strategi untuk meningkatkan ketrampilan. Dengan demikian diharapkan pembelajaran akan aktif, inovatif, kreatif, afektif dan menyenangkan (PAIKEM), agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai kompetensi yang diharapkan.
Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang menggunakan pola pembelajaran tradisional dengan metode pokok ceramah. Sehingga masih banyak siswa belum mampu mencapai kompetensi yang diharapkan dengan optimal, karena siswa tidak mempunyai pemahaman konsep sains dengan baik.Keadaan itulah yang menuntut guru untuk dapat mengelola pembelajaran seefektif mungkin antara lain dengan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi atau topik.

    Dari paparan di atas, maka dalam penelitian ini guru sebagai penulis memilih model pembelajaran kontekstual karena model pembelajaran CTL sangat cocok untuk pembelajaran IPA.

A.     Tujuan


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya penerapan pendekatan CTL dalam pembelajaran , strategi pembelajaran CTL, komponan- komponen dalam pendekatan CTL serta penerapan pendekatan CTL pada pembelajaran IPA.

BAB II PEMBAHASAN

A.       Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning


Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar dengan karakteristik guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep ini hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan hanya kegiatan transfer ilmu dari guru ke siswa semata.
Pandangan progresivisme yang dikemukakan oleh John Dewey (dalam Murtono, 2017:112),menyebutkan hal-hal yang melandasi pentingnya pembelajaran kontekstual bagi siswa adalah siswa belajar dengan baik apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan oleh guru.Selanjutnya,Andrew(dalam Murtono,2017:112) menjelaskan dalam pembelajaran, anak harus bebas agar bisa berkembang wajar, melalui pengalaman langsung.
Daryanto dan Raharjo, (dalam Sri Utaminingsih,2015) pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching  and  learning)  adalah  konsep  belajar  yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa  dan  mendorong  siswa  membuat  hubuangan  antara pengetahuan yang  dimilikinya  dengan  penerapannya  dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (Contructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment).
Sedangkan Sanjaya (dalam Sri Utaminingsih,2015)  Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

B.     Pentingnya Penerapan Pendekatan CTL Dalam Pembelajaran

Penerapan pembelajaran CTL dianggap penting karena beberapa hal yaitu:


1) Anak belajar memahami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan,kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Dengan dorongan dari guru,

mereka di harapkan mampu mengkonstruksikan pelajaran dalam benak mereka sendiri, jadi siswa tidak hanya sekedar menghafalkan fakta-fakta, akan tetapi mereka di tuntut untuk mengalami dan akhirnya menjadi tertarik untuk menerapkannya.
2) Melalui pendekatan kontekstual di harapkan siswa di bawa ke dalam nuansa pembelajaran yang di dalamnya dapat memberi pengalaman yang berarti melalui proses pembelajaran yang berbasis masalah, penemuan(inquiri), independent learning, learning community, proses refleksi, pemodelan sehingga dari proses tersebut di harapkan mereka dapat memahami, menghayati dan, mengamalkan ajaran agamanyaa.
3) Pembelajaran yang kompeten memenuhi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan, psIkomotor, ketiga aspek tersebut harus di kembangkan secara terpadu dalam dalam setiap bidang kegiatan pembelajaran. Guru dapat memilih bagian mana yang cocok untuk aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor melalui penerapan model ini, di harapkan dapat membantu para guru dalam mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang benar-benar mempunyai kualitas belajar yang kuat yang di hiasi dengan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.


C.     Strategi Pembelajaran CTL

Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual antara lain:

1.           Pembelajaran berbasis masalah


Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan.

2.        Menggunakan konteks yang beragam


Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.

3.            Mempertimbangkan kebhinekaan siswa


Guru mengayomi individu dan meyakini bahwa perbedaan individual dan sosia lhendaknya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.

4.       Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri


Pendidikan formal merupakan hal yang penting bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri di kemudian hari.

5.      Belajar melalui kolaborasi


Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.

6.       Menggunakan penelitian autentik


Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

7.                                                                                             Mengejar standar tinggi


Setiap sekolah hendaknya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu ke waktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan melakukan studi banding ke berbagai sekolah di dalam dan luar negeri. Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:

a.      Relating

Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu  peserta didik agar yang dipelajarinya bermakna.

b.          Experiencing

Belajar adalah kegiatan “mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap

hal yang dikaji,berusaha menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.

c.       Applying

Belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan dalam konteks dan pemanfaatanya.

d.     Cooperative

Belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok, komunikasi interpersonal atau hubunngan intersubjektif.

e.                                                                                                                   Transfering

Belajar menenkankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.



D.     Komponen CTL

Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan tujuh komponen pendekatan CTL di dalam pembelajarannya. Ketujuh komponen utama itu adalah:

1.    Konstruktivisme (Constructivism)

Filosofi pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru. Pada umumnya kita sudah menerapkan  filosofi  ini dalam pembelajaran sehari-hari, yaitu ketika kita merancang pembelajaran dalam bentuk siswa belajar, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan,dan menciptakan ide.

2.                                                                                                      Menemukan (Inquiri)

Menemukan (Inquiri) adalah bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan

bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Langkah-langkahnya sebagai berikut;
a.Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
b.                                                                                      Mengamati dan melakukan observasi,
c.Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya
d.                                                                                      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.

3.         Bertanya (Questioning)

Dalam pembelajaran yang berbasis CTL, Questioning merupakan strategi yang utama. Karena bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri yaitu menggali informasi menkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan orang lain yang didatangkan di dalam kelas.

4.                                                                                          Masyarakat Belajar (Learning Community)

Di dalam konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok- kelompok yang anggotanya heterogen dengan bentuk yang sangat bervareasi, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya. Dalam masyarakat belajar dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Tidak ada pihak yang dominant merasa segan untuk bertanya, atau menganggap paling tahu, semua pihak mau mendengarkan.

5.                                                                                          Pemodelan (Modelling)

Sebuah pembelajaran atau pengetahuan tertentu, ada model yang mudah ditiru. Model itu bisa berupa cara mengerjakan sesuatu. Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Tapi dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model, karena

model dapat juga di datangkan dari luar. Misalnya apabila ada siswa yang pernah memenangkan kontes berbahasa inggris, siswa itu apat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya, atau guru mendatangkan ’model’ tukang kayu di kelas, lalu memintanya untuk bekerja dengan peralatanya, sementara siswa menirukan.

6.          Refleksi ( Reflection )

Refleksi merupakan cara berfikir tentang apa yang baru di pelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Siswa memperluas pengetahuan  yang dimiliki melalui konteks pembelajaran, yang kemudian di perlukan sedikit demi sedikit, sementara guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari ini, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari ini, hasil karya, atau diskusi.

7.                                                                                          Penilaian Yang Sebenarnya ( Authentic Assessment )

Adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Hal tersebut perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka assessement tidak dilakukan di akhir periode, tetapi dilakukan bersama dengan secara integrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagi cara. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa adalah : PR, kuis, karya

siswa, prestasi, laporan jurnal, karya tulis atau proyek kegiatan dan laporanyannya.

E.     Penerapan CTL pada pembelajaran IPA
Penerapan CTL pada pembelajaran IPA dalam penelitian ini adalah materi di kelas 4, yaitu struktur dan kegunaan akar. Adapun pelaksanaannya dikolaborasikan dengan multi metode, antara lain: metode ceramah, penugasan, demonstrasi, eksperimen dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.   Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok
2.   Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
3.    Sehari sebelumnya siswa diberi tugas untuk membawa bermacam-macam akar tumbuhan
4.  Masing-masing  kelompok  menghadap  meja  dan  akar  tumbuhan     yang dibawanya beserta lembar kertas folio
5.   Penjelasan singkat guru mengenai pokok materi dan tugas dalam diskusi kelompok
6.   Selama 40 menit, siswa diskusi mengamati dan mengidentifikasi akar tumbuhan yang ada dihadapannya dan mencatat hasil pengamatannya
7.   Siswa menyajikan hasil pengamatan di kertas karton. Kreatifitas dalam menyajikan ide hasil pengamatan dan diskusi sangat dihargai
8.   Diwakili oleh salah satu anggota setiap kelompok menyajikan hasilnya.
9.   Sharing kelas mengenai hasil diskusi dan pengamatan tentang akar
10.    Memberi tugas rumah
11.   Memberi “bonus” untuk penampilan terbaik (Bolpoin, buku tulis, pensil, dll.


Komponen CTL yang tampak pada langkah-langkah pembelajaran di atas adalah:
1)    Ilmu dan pengalaman diperoleh siswa dari menemukan sendiri. Itu berarti
konstruktivisme.
2)    Proses inquiri muncul pada cara dan kiat mendiskripsikan yang ditempuh siswa.
3)   Questioning     muncul     ketika     siswa     mengamati     benda,    bertanya, mengajukan usul, dan menebak.
4)    Learning community muncul pada cara kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok lain.
5)    Authentic assessment yang dinilai dari kegiatan itu adalah kerjasama dalam kelompok dan hasil presentasi siswa.
6)    Kreatifitas siswa muncul dalam menyajikan ide hasil pengamatan dan
7)   Diskusi dapat berupa gambar, bagan, verbal.



Hasil Penelitian

      Dari pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL siswa dapat belajar melalui mengalami bukan menghafai, mengkontruksi pengetahuan dalam pikiran mereka, terbiasa memecahkan masalah,menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri dan bergelut dengan ide-ide. Selain itu siswa juga menjadi aktif, kritis, dan kreatif. Pada proses pembelajaran, kelas menjadi produktif, menyenangkan dan tidak membosankan.

                              BAB III PENUTUP


A.    Simpulan

Contextual Teching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa terlibat secara penuh untuk dapat menemukan materi serta membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam pendekatan CTL mempunyai tujuh komponen utama yaitu:1) Konstruktivisme (Constructivism), 2) Menemukan (Inquiri), 3) Bertanya (Questioning), 4) Masyarakat Belajar (Learning Community), 5) Pemodelan (Modelling), 6) Refleksi ( Reflection ), 7 Penilaian Yang Sebenarnya ( Authentic Assessment ).

B.      Saran

Sebagai seorang hendaknya selalu mengembangkan inovasi pembelajaran pada proses belajar mengajar agar siswa tidak jenuh dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.



DAFTAR PUSTAKA


Khakim,Sri Utaminingsih, Fina Fakriyah. 2015. .Jurnal Ilmiah kependidikan.                 Vol 5, No 1

Lutfiana Khairoh , Ani Rusilowati, Sri Nurhayati.2014. Unnes Science                    Education Journal 3 (2).
Murtono, 2017. Model-model pembelajaran inovatif. Ponorogo, WadeGroup. Sugiyanto. 2007. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG): Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 Surakarta.
Trianto, S.Pd, M.Pd. 2007. Model – Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik . Jakarta : Prestasi Pustaka







Komentar